Background
"Ini cuman perasaanku, apa kamu yang beneran berubah? Kayaknya yang kedua :')"
Yeah, sepertinya yang kedua. Kau berubah. Ini bukan kau yang dulu, crazyfrog. Ini orang asing yang hanya kebetulan saja selalu ada dalam anganku dan pikiranku. Ini bukan kau.
Apa yang membuat ini semua beralih seperti ke dunia lain?
Di tengah malam terkadang aku tiba-tiba terbangun dan seluruh sarafku mengejang menyadari kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi pesan singkatmu seperti dulu.
Sudah tidak ada lagi orang yang selalu ada disaat aku membutuhkan pundak untuk bersandar.
Sudah tidak ada lagi crazyfrog yang dulu selalu ada untukku.
Dia hilang, mungkin dimakan alien atau yang semacamnya. Atau mungkin diculik oleh bajak laut dan digantikan oleh boneka yang mirip dengannya.
Ini gila. Keadaan ini membuatku gila dan tidak bisa menerima ini dengan mudah. Ini mempersulit keadaanku. Mempersulit segala masalah yang aku hadapi. Parah.
Mana bisa aku terus seperti ini? Sepersekian persen dari otak sehatku memerintahkan aku untuk mengambil langkah pasti. Menjauh.
Tapi hatiku menolak mentah-mentah.
"Kau tidak bisa memungkiri kalau perasaanmu telah padam, kan?" Hatiku berbisik memojokkan. "Tapi kau tetap membutuhkan dia, dia orang yang paling bisa membuatmu nyaman sejak dulu." Ya, itu benar.
Entah mana yang benar, aku takut mengatakan kebenaran. Karena aku telah belajar dari masa lalu bahwa kebenaran itu menyakitkan, kau tahu?
Sometimes it's better to be clueless about what's happening around you, than to know every bit of information that would silently kill you.
Bahkan aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang, aku ingin menghindarinya, tapi aku ingin keadaan kami seperti dulu, dua sahabat yang saling menyayangi satu sama lain tanpa mengutarakan apa yang harus diutarakan.
Aku ingin pergi darinya, membuang dia jauh-jauh dari hidupku. Tapi aku juga ingin kejelasan dari ini semua, kenapa dia seperti ini sekarang.
Ini membuatku gilaaaa!
Hanya Tuhan yang tahu aku. Harus bagaimana. Dan aku tetaplah menjadi aku, orang yang selalu membiarkan segala hal dan masalah mengalir apa adanya sampai masalah itu sendiri bosan dan pergi meninggalkanku.
Just look around and be brave, brotha..
Dulu ada yang pernah mengatakan padaku, "Memang ada yang namanya mantan kekasih. Tapi jangan pernah berpikir kalau ada yang namanya mantan sahabat." is that true? Ciyuss? Masaa?
Aku mengatakannya kepada sepupuku, dan dia tertawa. "Pasti ada. Aku aja punya loh mantan sahabat. Dulu sahabatku punya cowok, terus putus. Beberapa minggu kemudian cowoknya bilang suka sama aku gara-gara sering main bareng sama aku sama sahabatku. Aku nolak cowok itu, tapi sahaatku jadi agak gimanaa gitu. Ya udah lama-lama gak ngomong lagi. Terus malah jadi musuh. Sering ngomong dibelakang lah, nggosipin aku lah, inilah, itulah, repott."
Didalam hati aku hanya tertawa, jadi musuh hanya karena CINTA? Oh my God. HAHAHA!
Tapi sekarang aku mengalaminya.
Tapi... apa iya karena cinta? Entahlah. Ini agak, err, absurd.
Sahabatku yang sudah mengenalku sejak kelas 1 SMK, sekarang mendiamkanku tanpa sebab. Bukan hanya mendiamkan. Dia berubah!
Segala cara telah aku tempuh. Dan aku menyerah. Dia tetap tidak peduli lagi denganku.
Apa sebenarnya yang terjadi, aku tidak tahu. Aku tidak peduli lagi (setidaknya aku BERUSAHA untuk tidak peduli lagi).
Tapi dua hari yang lalu dia kembali mengirimi pesan singkat kepadaku. Aku mulai kembali menoleh ke arahnya. Oh God, apa ini nyata? Entah mengapa aku senang.
Tapi ternyata senangku hanya untuk beberapa menit.
You know what?
You. Know. What?!
YOU KNOW WHAT?!
Dia mengirimiku pesan, sok peduli denganku, hanya karena ingin aku datang di acara lomba sahabatnya sebagai suporter. Damnit! Aku benci modusnyaaaa~ :"
Jika seperti itu caranya lebih baik tidak usah bersusah payah mengirimiku pesan dan berpura-pura peduli kepada kondisiku sekarang, ferret!
Tapi hari ini aku kembali mencoba mengontaknya, aku mengirimi dia pesan terlebih dahulu.
Dua kali mengirim, dua kali tersampaikan, dua-duanya tidak dibalas.
Sudahlah. Aku muak.
Ternyata yang namanya mantan sahabat memang benar-benar ada.
Bisakah kau percaya, bung? Dia memutuskanku!
"*his name, sorry sensor* mengirimimu permintaan untuk berpisah"
Itulah kalimat yang aku temukan saat aku login di game online kesayanganku. Dapatkah kau percaya? Malam minggu aku menemukannya, dalam satu kali main aku langsung jatuh cinta kepadanya. Dalam satu ronde itu pula dia langsung mengirimiku "couple proposal". Dan (tidak seperti biasanya) dalam satu kali main itu pula aku MENERIMANYA! Dapatkah kau percaya kalau aku mendapati kenyataan bahwa dia memutuskanku pada Minggu malam? Brengsek! Dia bahkan masih membalas pesan singkatku saat malam itu.
Why always mee? Disaat aku didekati oleh seorang pria, hanya ada dua kemungkinan: aku ilfeel dan menjauh, atau aku nyaman dan aku bertahan. Well, aku rasa itu terjadi pada semua wanita bukan?
Tapi kenapa disaat aku telah menemukannya aku justru kehilangan diaaaa? Oh God, ini tidak adil :(
Aku sendiri tetap membalas mention milik Mantan dari Masa Laluku. Entah mengapa, aku terus bertahan agar tidak mencari masalah dengan dia. Toh tidak ada salahnya kan? Dia baik, emmm maksudku didepanku dia baik. Dan yang aku ketahui dia memang baik. Lebih baik dariku, maksudku :')
Baru saja Kenny dan Linsey pulang dari rumahku, jemputan mereka masing-masing sudah datang dan mereka pulang.
Kenny bercerita kepadaku, ada seseorang yang menanyakan tentangku. Dan setelah aku desak habis-habisan (agak memaksa, sebenarnya) dia mau bercerita.
"Crazyfrog menanyakanmu tadi."
Aku hanya mengangkat alis.
"Terserah jika tidak mau percaya, aku kan hanya bercerita."
"Hey hey! Jangan marah, Keeen! Okay, ceritakan."
Dan dia bercerita.
"...dia berteriak sangat keras, dan kau tahu? Itu cukup keras sampai semua orang di sekitar sana akhirnya menoleh ke arah kami! Lalu dia menanyakan 'memang sejak kapan?' Dan aku mengatakan 'sangat lama, bray. Memang kau tidak tahu?' 'Tidak. Dia tidak memberitahuku.' Lalu aku mengatakan 'Kau tidak pernah bertanya bagaimana keadaannya, mana mungkin dia tiba-tiba mengirimimu pesan singkat 'operasi'?' Dan dia hanya diam lalu pergi sambil mengatakan 'oke, thanks infonya.' Aku hanya mengatakan 'oke' dan aku pergi."
Aku hanya diam. Hah. Hanya begitu? Padahal di dalam hati aku berharap lebih.
Justru jika dia telah mengetahui keadaanku sekarang, kenapa dia masih diam?!! Harusnya jika dia peduli denganku (read: masih peduli) dia paling tidak mengirimiku pesan untuk menanyakan kabarku atau basa-basi lainnya bukan?
Aku tidak berharap banyak. Aku hanya berharap dia seperti dulu lagi. Tapi sepertinya itu hanya harapan kosong...
HELLO WORLD!
HELLO DEAR!
HELLO LOSER...

Aku tidak percaya akhirnya aku mendapatkan couple untuk user AyoDance ku! AKU MENDAPATKANNYA, BROTHAA! Akhirnya! Setelah sekian lama aku berpikir aku tidak akan mendapatkan couple yang pas untukku, ternyata akhirnya aku bisa menerima seseorang untukku.

Sebenarnya kemarin tidak sebagus itu juga, sih. Aku mengalami sedikit masalah kemarin malam. Mantan dari seseorang (yang dulu sangat berarti bagiku, tapi itu dulu sebelum ku terlukaaa~ #sing) mengontakku dan menginterogasiku di jejaring sosial media dan jujur saja itu membuatku merasa tidak nyaman.
Maksudku, well, dia baru beberapa hari yang lalu putus dengan pacarnya, lalu dia mem-follow twitterku, lalu dia meminta aku untuk mem-followback, lalu dia mengirim mention, lalu kita saling berbalas mention, lalu dia mulai menyinggung-nyinggung tentang MASA LALUku. Aku tegaskan (bold, underline, italic), DIA HANYA MASA LALU YANG AKU HARAP DAPAT AKU LUPAKAN DENGAN MUDAH. Tapi karena wanita ini menyinggungnya kembali dengan ganas, aku terpaksa mengingat lagi semua kenangan manis itu. Shit.

Yeah, well aku kira tidak seburuk itu. Minimal dulunya tidak seburuk ini.
Maksudku, dulu sepertinya aku memiliki segalanya. Teman yang hebat, pacar, secret admirer, etc, etc, etc. Bahkan aku memiliki ibu yang hampir sempurna (tidak, dia saaaangat sempurna). Aku juga telah mencapai puncak dalam karirku di organisasi terbesar dalam sekolahku.

Tapi itu dulu... ketika semua masih dalam genggamanku dan bisa aku kendalikan semauku.

Sejak ayah kembali kedalam kehidupanku dan ibuku, semuanya berubah. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, aku tidak mengerti.
Mungkin aku saja yang mengira seperti itu, karena MUNGKIN karena kebetulan semata hidupku berubah tepat pada saat ayahku kembali.

Dulu siapa sih yang mau melirikku? Seorang Illia yang kutu buku, tidak famous, tidak cantik, tidak memiliki daya tarik (tidak seperti teman-temanku sekelas di SMP dulu yang notabenenya adalah fashionista), tomboy, over, sebutkan saja semua dan aku akan selalu mengatakan "yeah, that's right".

Tapi semua berubah, sejak aku masuk ke sekolah baruku.
Akulah primadonanya, aku mengatakan kepada diriku sendiri.

Illia yang dulu sudah mati. Sekarang yang ada hanyalah Illia yang selalu melekukkan senyum dan sedikit menggoyangkan pantatnya untuk menarik ribuan lelaki mendekat.

Tapi belakangan ini berbeda. Aku berubah.

Bukan.

Hidupku berubah.