Background

Untitled | Regret

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Mungkin dia tidak memiliki jam atau penunjuk waktu lainnya atau yang semacamnya. Mungkin juga dia dari luar negeri yang pembagian waktunya berbeda dengan tempat barunya, sehingga penunjuk waktunya berbeda. Mungkin juga dia tidak pernah dikenalkan dengan sesuatu yang disebut dengan disiplin oleh orangtuanya.

Aku hanya mengandai-andai saja. Andai saja penyesalan datang tepat waktu, atau jika bisa 5 atau 10 menit saja sebelum 'acara' dimulai, semua tidak akan seperti ini.

Aku mungkin masih bahagia bersama dia. Bahkan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Jatuh cinta dengan sahabatku sendiri..

Sekarang aku sadari bahwa semua telah berbeda. Dengan dia yang mulai berpaling karena kesalahan besar yang telah aku lakukan. Tidak adakah kesempatan? Tidak. Tidak adakah cara untuk memperbaiki semua ini menjadi seperti dulu? Tidak. Tidak adakah perbuatanku yang dapat menawan hatimu lagi? Menyembuhkan luka yang telah aku goreskan disana dengan segala cara. Tidak adakah? Tidak.
Tidak adakah orang yang pintar dengan IQ 180 yang dapat membuat mesin waktu? Aku akan melakukan apapun untuk itu.

Seandainya waktu dapat diputar, aku tidak akan menyia-nyiakan dia seperti dulu. Menggantungnya dengan harapan palsu hingga akhirnya tali gantung itu retas dan putus, membuat dia dapat kembali bebas. Menjerat dia dengan segala perhatian yang aku berikan. Hingga akhirnya dia menyadari bahwa perhatian itu bukan hanya untuknya sorang, tapi kepada orang lain (yang bagiku saat itu adalah orang yang lebih berharga darinya).

Well, everything has changed, is that right? Semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Yang sangat aku sayangkan adalah, aku baru menyadari dia tidak akan sebodoh itu untuk terus dan terus bertahan demi aku. Memang siapa aku? Seorang putri yang sangat menawan yang baik hati dan pantas untuk dipertahankan? Once again, that's not.

Bisakah aku hidup tanpa adanya penyesalan, Tuhan? Ini menyakitkan. Ditambah lagi sekarang aku sedang menjalin status hubungan baru dengan seorang pria yang dia kenal. Itu membuat aku jadi serba salah dihadapannya. Dan aku tidak akan menyalahkan dia jika dia tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya.

Kapan aku bisa lepas dari ini semua? Aku lelah.

Pernah suatu hari aku menemukan seseorang yang benar-benar bisa membuatku melupakan dia barang sejenak. Tapi dihari berikutnya aku kembali menemukan dia di otakku. Hari-hari yang aku lalui sambil berusaha melupakanmu dan berpaling kepada laki-laki lain ini membuatku GILA! Belum pernah aku merasakan yang namanya berharap terlalu besar dan akhirnya aku ditinggalkan begitu saja. Aku kehilangan dia. Dan aku juga kehilangan engkau. Absurd.

Dan pikiranku kembali terisi tentangmu. Segala hal indah yang pernah kita lalui bersama. Segala hal manis dan pahit yang telah mengisi hari-hariku bersamamu. Hari-hari kita. Terkadang aku terbangun di tengah malam dan memori tentangmu menyerangku tanpa ampun. Tapi entah kenapa aku tidak bisa menangis. Padahal sebelum ini aku selalu menjadi anak perempuan (dalam artian aku benar-benar menjadi anak perempuan yang labil dan selalu menangis setiap emosiku bergejolak). Tapi ketika aku merasakan emosi tentangmu menendang-nendang dalam dadaku, aku hanya bisa termenung dan menyesali penyesalan ini.

Hingga akhirnya aku kembali bertemu dengan seseorang. Orang yang sempat membuatku sedikit melupakanmu. Aku menerimanya, membiarkan dia membuatku berpikir bahwa aku dapat melupakan segala masa lalu dan memulai lembaran baru bersamanya. Tapi tanpa aku dan dia sadari, aku tidak pernah bisa membalikkan halaman baru dalam bukuku. Halaman yang terbuka sekarang terlalu bagus. Dan terlalu sulit untuk ditinggalkan begitu saja.
Aku meninggalkan dia. Karena aku tahu dia bukan orang yang aku pilih untuk melupakanmu. Hanya ada satu orang yang benar-benar bisa membuatku melupakanmu. Dan dia telah pergi, jauh. Tanpa menyadari aku menyesal karena kami telah mengenal jauh lebih dalam satu sama lain dari pada harapan kami berdua sendiri.

Ah sial, hidup dalam penyesalan memang benar-benar rumit, kau tahu? Bangun dan langsung teringatkan tentang masa lalu. Saat kau melihat namanya, otakmu langsung berkontraksi dan mengejang. Ketika kau men-stalk profilnya dalam jejarin sosial, hatimu serasa diremas menyadari sudah tidak ada lagi postingan yang ditujukan untukmu, seperti dulu..

Well, yang aku tahu pasti sekarang adalah. Aku bertahan. Just holding, onto nothing..

Categories: Share

Leave a Reply