Untitled | Eccedentesiast
Eccedentesiast, orang yang menyembunyikan segala rasa sakit dalam dirinya dengan senyuman.
Is that like me?
Aku selalu tersenyum, atau dapat dikatakan aku hampir selalu tertawa.
Tapi dibalik itu semua aku menyimpan bom waktu dalam diriku.
Yeah, jangan heran. Asertif bukanlah bagian dari diriku.
Memangnya sebesar apa sih masalahmu? Kau seperti anak kecil saja, semua orang punya masalah kan?
Semua orang pasti berpikir seperti itu ketika orang tahu aku mengeluh tentang apa yang sedang aku hadapi.
Tapi apa kalian pernah menghadapi berbagai masalah yang dicampur aduk menjadi satu dan ditumpahkan diatasmu lalu kau ditinggal untuk membersihkan semua masalah itu sendirian?
Bagaimana kalau semua masalahmu itu membuatmu tertekan? Bagaimana kalau semua itu tidak bisa kau atasi sendirian tapi kau terpaksa menanggungnya sendiri hanya karena kau takut membuat orang-orang disekitarmu khawatir?
Bagaimana kalau bahkan orang-orang yang kau khawatirkan justru ternyata tidak pernah sekalipun mempedulikanmu?
Entah aku harus bagaimana. Rasanya aku ingin berlari ke psikiater sekarang juga (sekarang sudah pukul 10.00 p.m).
Rasanya aku ingin berada di pinggir pantai atau di atas bukit lalu berteriak dan meluapkan semuanya keluar dari diriku.
Aku benci keadaan ini! Apakah kalian sadar itu? Tidak! Kalian tidak akan sadar dan kalian tidak akan pernah mengerti!
Aku tidak bisa menghadapi ini, Tuhan..
Bahkan rasanya jauh lebih baik kalau aku mati.
Setiap kali emosi ini hampir meluap, aku selalu menghentikannya dan kembali menutupnya rapat-rapat.
Pemikiran "hanya masalah kecil, kau akan terlihat seperti anak-anak kalau terus mengeluh. Sangat tidak penting" terus menggelayutiku. Membuatku tidak bisa bebas untuk menikmati hidup.
Membuatku semakin tertekan dan tertekan.
Aku bisa gila kalau begini caranyaaa!
Bagaimana dengan temanmu? Kau kan punya teman?
Hah, teman yah? Persetan dengan mereka.
Mereka selalu mengatakan "Bagaimana aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja jika kau tidak pernah menceritakan masalahmu?" Fuck for you, dear.
Sahabat bukanlah orang yang menanyakan "Are you alright?" Ketika kau terlihat memiliki masalah. Tapi sahabat adalah orang yang menanyakan "Are you alright?" Ketika kau sedang memiliki masalah.
Tidak ada yang peduli.
Ibuku? Hah. Bahkan diapun menyalahkanku dan terus menerus memberikan tekanan padaku!
Dia mengatakan pada semua orang bahwa anak boleh memberikan pendapat. Menurutnya apa yang dia lakukan?! Menjadi ibu yang telah menjalankan kalimat itu? Suck!
Aku sudah lelah untuk menangis. Percuma. Semakin membuatku merasa lemah.
Disaat. Aku berada pada puncak emosi, tendangan dari masalalu membuatku semakin terpelanting.
Ternyata memang hanya dia yang mengerti semua tentangku. Dan kini dia telah menghilang. Dia telah tiada.
RIP to all people who's said will be here next to me then leave me alone in the darkness. All of you are DEAD to me!